CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Kamis, 08 Januari 2009



Dulu saat aku masih terlalu kecil, aku mendengar sura angin yang berdesis di sekelilingku.
katanya Tuhanm enangis alam rusak....

JANGAN HANYA DI TV PLASMA


Kata orang bijak alampun berkomunikasi, dia mempunyai bahasa yang lebih agung dan mudah di mengerti oleh manusia. Tanpa harus mengenal kosa kata, panggilan orang pertma, keempat dan EYD yang selalu menjadi topik utama dalam berbagi bahasa.

Berabad-abad alam mencoba megajarkan bahasa itu kepada semua mahluk yang ada, hewan, angin,udara dan manusia. Namun hasilnya bisa kita lihat dan rasakan.

Alam tak putus asa dan berhenti sampai di situ saja, di suatu malam yang tak terlalu dingin. Alam bertanya kepada Tuhan bagaimana dia bisa berkmonikasi dengan manusia yang tak terlalu mau mempelajari bahasanya. Tuhan berkata kepadanya, ada sebuah bahasa yang bisa di mengerti oleh semua mahukNya, yaitu bahasa universal. Alam tersenyum dengan sedikit kebingungan. Tuhan melanjutan perkataanya lagi, “ ada satu syaryat yang harus di penuhi olehmu, yaitu bagiamana kamu bisa mendapatkan perhatianya. Kemudian alam tersenyyum lagi sambil menmpilkann satu bintang besar yang sekarang kita sebut bulan.

Saat itu, manusia pertama yang melihat bintang besar malam begitu terkagum-kagum dengan cahaya yang di hasilkanya. Kemudian dia bercerita kepada semua kerabat dan sahabatnya. Setiapa malam mereka menungu-nunggu kedatangan rembulan, menunggu-nunggu melihat kecantikan malam setelah berdandan.

Di belahan bumi lain, alam menampikan pagi dengan berbagai warna yang berbeda. Menampilkan menatri yang terlihat begitu pemalu sehinga membuat beberpa manusia mencintainya.

Di daerah kutub, alam menampilakn tarian-tarian cahaya di suatu malam pada musim tertentu. Dia melihat hasilnya, dia melihat bagaiamana manusia mula2 memperhatikanya. Sampai saat ini dia selalu berdandan agar manusia lebih mencintainya, pada suatau ketika dia meminta tolong kepada semua mahuk yang bisa berbahasa denganya, dia mulai mengajari agar manusia mau memperhatikanya. Dia megajari mereka semua berdandan.

Sampai pada suatu ketika alam benar-benar begitu di cintai, dia ingin di miliki seutuhnya. Manusia mulai meyembahnya sebagi para dewa, mereka mengingkan alam hanya seperti yang dia cintai saja. Alam sebagai pohon, sebagai bulan, matahari dan juga udara. Kemudian pada titik tertentu alam mulai di inginkan untuk selalu ada di sekitar manusia, manusia mencipatakan kamera, mencipatakn film mencipatakan alam seperti mereka inginnkan. Dan hal itu berlangsung sampai saat ini., sampai di saat saya memaksa anda untuk membaca pemikiran aneh saya ini.

Kemudian kesalahan besar terjadi, kita mulai melupakan alam yang sesungguhnya. Kita lebih terpeona melihat alam yang ada di selembar kertas atau di sebuah tv plasma berukuran 50 inci. Kita lebih terpedaya pada alam sepeti yang kita inginkan, padahal kata angin alam ingin di perhatikan dan di cintai semampu mereka.

Tapi sampai saat ini, alam masih menampilakn pagi, malam dan tarian pepohonan, alam masih berfikir sutau ketika nanti manusia akan beralih padanya yang nyata, yang tak hanya di tv plasma.


kata tukang foto, satu gambar bisa mewakili banyak kata.

PhotobucketPhotobucketPhotobucketPhotobucketPhotobucketPhotobucketPhotobucketPhotobucketPhotobucket

0 komentar: